Rabu, 28 Maret 2012
Senin, 12 Maret 2012
Sahabat Sejati
ARTI SAHABAT SEJATI:
1.Persahabatan sejati memang sulit dicari. Hanya mereka yang bener-bener bersahabat dengan tulus dan ikhlas yang bisa mendapatkan arti sahabat sejati
2.Sahabat yang baik adalah yang seiring sejalan denganku dan yang ‘‘...menjaga nama baikku”
3.Tidak ada yang abadi dan tidak ada teman yang sejati, kecuali yang menolong ketika kita susah
4.Jika seseorang tidak dapat menjaga nama baik sahabatnya, maka tinggalkanlah dia dan jangan bersikap belas kasihan kepadanya
5.Tidak baik bersahabat dengan pengkhianat, karena dia akan mencampakkan cinta setelah dicintai
6.Mudah-mudahan anjing itu bisa bersahabat denganku, karena buatku dunia sudah hampa oleh manusia. sehina-hinanya anjing, ia masih bisa menunjukkan jalan untuk tuannya yang tersesat, tidak seperti manusia jahat yang selamanya tidak akan memberi petunjuk
7.Bersahabat itu tidak mengenal seberapa lamanya kamu bersahabat dan mengenalnya , walaupun sekian lama kamu bersahabat dengannya tapi ujung-ujungnya dia merusak nama baikmu dengan sengaja itu namanya ”bukan sahabat” . Dan untuk apa ia dianggap sahabat lagi ??
8.Apabila dia tidak bisa menghargai pendapatmu dan malah berkata dibelakangmu , apa itu yang namanya sahabat ?? and I said NO !!
9.Sahabat sejati adalah sahabat dimana ia dapat mengerti semua perasaanmu dan dapat menghargaimu selayaknya ia menghargai dirinya sendiriLihat Selengkapnya.
Kisah Motivasi Islami
KISAH-KISAH MOTIVASI ISLAMI TERFAVORIT
PELAJARAN BERHARGA DARI SANG KURA-KURA:
Kisah Motivasi Islami
Pada suatu hari kelinci ingin membuktikan kepada semua warga hutan, bahwa
kura-kura tidak cocok mendapatkan jabatan yang sangat menjanjikan itu. Supaya
semuanya tahu kura-kura tidak lebih dari seekor binatang pecundang dan gagal.
Di hadapan banyak warga hutan, ia menantang kura-kura bersaing dengannya. Kura-kura
pun menerima tantangan ...itu. Dalam pertandingan ini, kedua pihak bisa mengajukan
syarat-syarat tertentu. Kelinci memberikan syarat kepada kura-kura, bahwa
pertandingan ini hanya antara ia dengan kelinci, yaitu hanya berdua saja. Tentu
saja syarat ini diterima kura-kura, bahkan sebelum adanya syarat itu, kura-kura
juga sudah pasti memenuhinya. Sedangkan syarat dari kura-kura adalah kelinci
harus membawa beban di punggungnya selama pertandingan. Dan berat beban
tersebut sesuai dengan berat yang dipikul kura-kura ke mana ia pergi. Syarat
ini tidak membuat kelinci gentar sedikitpun. Ia sangat yakin bisa memenangkan
pertandingan itu, walau tidak pernah berlatih memikul beban di punggung. Syarat
ini juga untuk mengukur kemampuan dirinya, apakah mampu membawa beban berat
sambil berlari atau tidak.
Hari pertandingan pun tiba. Macan berdiri sebagai wasit lomba lari antara kura-kura dan kelinci. Macan lalu memberikan aba-aba, dan keduanya langsung bergerak. Dalam perlombaan itu, kebiasaan bergerak lambat si kura-kura tidak juga hilang. Sedangkan penantangnya sudah lari dengan semaksimal mungkin dan mengeluarkan semua potensi yang ada dalam dirinya. Karena si kelinci berlari kencang, ia tidak sadar bahwa beban yang disyaratkan kepadanya ternyata ketinggalan di belakang. Sudah sampai di tengah perjalanan menuju garis finish, ia kembali ke belakang untuk mengambil bebannya, ternyata beban itu banyak menyedot energinya. Ia tidak kuat memikul beban yang berat itu sambil berlari. Apalagi kekuatannya semakin berkurang karena terlalu kencang berlari sebelumnya. Akhirnya, kura-kura berhasil menuju garis finish dan memenangkan tantangan itu. Seluruh penonton yang hadir sangat kagum kepada kura-kura ini dan semakin sayang kepadanya.
Cerita kura-kura cerdik ini sangat inspiratif dan membangun. Ada nilai pendidikan positif yang bisa Anda ambil:
Pelajaran dari sang kura-kura:
- Jangan menganggap sepele dan enteng terhadap sesuatu yang kecil, karena Anda yakin bahwa diri Anda mampu menyelesaikannya!
- Gunakan kecerdasan dan kecermatan Anda ketika menghadapi sesuatu yang baru dan yang tidak terduga dalam hidup!
- Manfaatkan dan isi waktu untuk hal-hal yang dapat menambah potensi diri Anda!
- Jangan pernah pasrah dan menyerah, seperti halnya kura-kura di atas!
(Dikutip dari buku "BELAJAR DARI AYAT-AYAT ALLAH YANG TERSIRAT; KISAH MOTIVASI ISLAMI TERFAVORIT," hal. 100-101.
Hari pertandingan pun tiba. Macan berdiri sebagai wasit lomba lari antara kura-kura dan kelinci. Macan lalu memberikan aba-aba, dan keduanya langsung bergerak. Dalam perlombaan itu, kebiasaan bergerak lambat si kura-kura tidak juga hilang. Sedangkan penantangnya sudah lari dengan semaksimal mungkin dan mengeluarkan semua potensi yang ada dalam dirinya. Karena si kelinci berlari kencang, ia tidak sadar bahwa beban yang disyaratkan kepadanya ternyata ketinggalan di belakang. Sudah sampai di tengah perjalanan menuju garis finish, ia kembali ke belakang untuk mengambil bebannya, ternyata beban itu banyak menyedot energinya. Ia tidak kuat memikul beban yang berat itu sambil berlari. Apalagi kekuatannya semakin berkurang karena terlalu kencang berlari sebelumnya. Akhirnya, kura-kura berhasil menuju garis finish dan memenangkan tantangan itu. Seluruh penonton yang hadir sangat kagum kepada kura-kura ini dan semakin sayang kepadanya.
Cerita kura-kura cerdik ini sangat inspiratif dan membangun. Ada nilai pendidikan positif yang bisa Anda ambil:
Pelajaran dari sang kura-kura:
- Jangan menganggap sepele dan enteng terhadap sesuatu yang kecil, karena Anda yakin bahwa diri Anda mampu menyelesaikannya!
- Gunakan kecerdasan dan kecermatan Anda ketika menghadapi sesuatu yang baru dan yang tidak terduga dalam hidup!
- Manfaatkan dan isi waktu untuk hal-hal yang dapat menambah potensi diri Anda!
- Jangan pernah pasrah dan menyerah, seperti halnya kura-kura di atas!
(Dikutip dari buku "BELAJAR DARI AYAT-AYAT ALLAH YANG TERSIRAT; KISAH MOTIVASI ISLAMI TERFAVORIT," hal. 100-101.
Renunag Inspiratif
REFLEKSI PENCIL DAN PENGHAPUS
Pensil : Maafkan aku.
Penghapus : Maafkan utk apa? Kamu tdk melakukan kesalahan apa2.
Pensil : Aku minta maaf krn telah membuatmu terluka. Setiap kali aku melakukan kesalahan, kamu selalu ada utk menghapusnya. Namun setiap kali kamu menghapus kesalahanku, kamu kehilangan sebagian dr dirimu. Kamu akan menjadi semakin kecil setiap saat.
Penghapus : Hal itu benar. Nam...un aku sama sekali tdk merasa keberatan. Kau lihat, aku memang tercipta utk melakukan hal itu, utk selalu membantumu setiap saat kau melakukan kesalahan. Walaupun suatu hari nanti, aku tahu bahwa aku akan pergi dan kau akan menggantikan diriku dgn yg baru. Aku sungguh bahagia dgn perananku. Jadi tolonglah, kau tak perlu khawatir. Aku tdk suka melihat dirimu bersedih.
Kisah percakapan antara pensil dan penghapus sungguh inspiratif.
Orang tua kita layaknya penghapus sedangkan kita layaknya pensil. Mereka (Orang tua) selalu ada utk anak2 mereka, memperbaiki kesalahan anak-anaknya.
Terkadang, seiring berjalannya waktu...
Mereka akan terluka dan akan menjadi semakin kecil
(Dalam hal ini, maksudnya bertambah tua dan akhirnya wafat).
Walaupun anak2 mereka akhirnya akan menemukan seseorang yg baru (suami atau istri), namun orang tua akan selalu tetap merasa bahagia atas apa yang mereka lakukan terhadap anak-anaknya dan akan selalu merasa tidak suka bila melihat buah hati tercinta mereka merasa khawatir ataupun sedih.
"Hingga saat ini, saya masih selalu menjadi si pensil.. Dan sangat menyakitkan bagi diri saya untuk melihat si penghapus atau orang tua saya semakin bertambah "kecil" dan "kecil" seiring berjalannya waktu. Dan saya tahu bahwa kelak suatu hari, yang tertinggal hanyalah "serutan" si penghapus dan segala kenangan yg pernah saya lalui dan miliki bersama mereka..."
Renungkanlah dan sadarilah:
PARENTS ARE PRECIOUS!!
Bahagiakanlah orang tua kita selagi masih ada waktu!
Semoga bermanfaat
Penghapus : Maafkan utk apa? Kamu tdk melakukan kesalahan apa2.
Pensil : Aku minta maaf krn telah membuatmu terluka. Setiap kali aku melakukan kesalahan, kamu selalu ada utk menghapusnya. Namun setiap kali kamu menghapus kesalahanku, kamu kehilangan sebagian dr dirimu. Kamu akan menjadi semakin kecil setiap saat.
Penghapus : Hal itu benar. Nam...un aku sama sekali tdk merasa keberatan. Kau lihat, aku memang tercipta utk melakukan hal itu, utk selalu membantumu setiap saat kau melakukan kesalahan. Walaupun suatu hari nanti, aku tahu bahwa aku akan pergi dan kau akan menggantikan diriku dgn yg baru. Aku sungguh bahagia dgn perananku. Jadi tolonglah, kau tak perlu khawatir. Aku tdk suka melihat dirimu bersedih.
Kisah percakapan antara pensil dan penghapus sungguh inspiratif.
Orang tua kita layaknya penghapus sedangkan kita layaknya pensil. Mereka (Orang tua) selalu ada utk anak2 mereka, memperbaiki kesalahan anak-anaknya.
Terkadang, seiring berjalannya waktu...
Mereka akan terluka dan akan menjadi semakin kecil
(Dalam hal ini, maksudnya bertambah tua dan akhirnya wafat).
Walaupun anak2 mereka akhirnya akan menemukan seseorang yg baru (suami atau istri), namun orang tua akan selalu tetap merasa bahagia atas apa yang mereka lakukan terhadap anak-anaknya dan akan selalu merasa tidak suka bila melihat buah hati tercinta mereka merasa khawatir ataupun sedih.
"Hingga saat ini, saya masih selalu menjadi si pensil.. Dan sangat menyakitkan bagi diri saya untuk melihat si penghapus atau orang tua saya semakin bertambah "kecil" dan "kecil" seiring berjalannya waktu. Dan saya tahu bahwa kelak suatu hari, yang tertinggal hanyalah "serutan" si penghapus dan segala kenangan yg pernah saya lalui dan miliki bersama mereka..."
Renungkanlah dan sadarilah:
PARENTS ARE PRECIOUS!!
Bahagiakanlah orang tua kita selagi masih ada waktu!
Semoga bermanfaat
Selasa, 06 Maret 2012
Cinta Seorang Anak Gembala
Sepanjang hari, ia menggembalakan ternaknya melewati lembah dan ladang melagukan jeritan hatinya kepada Tuhan yang dicintainya, "Duhai Pangeran tercinta, di manakah Engkau, supaya aku dapat persembahkan seluruh hidupku kepada-Mu? Di manakah Engkau, supaya aku dapat menghambakan diriku pada-Mu? Wahai Tuhan, untuk-Mu aku hidup dan bernapas. Karena berkat-Mu aku hidup. Aku ingin mengorbankan domba-Ku ke hadapan kemuliaan-Mu."
Suatu hari, Nabi Musa melewati padang gembalaan tersebut. la memperhatikan sang Gembala yang sedang duduk di tengah ternaknya dengan kepala yang mendongak ke langit. Sang gembala menyapa Tuhan, "Ah, di manakah Engkau, supaya aku dapat menjahit baju-Mu, memperbaiki kasur-Mu, dan mempersiapkan ranjang-Mu? Di manakah Engkau, supaya aku dapat menyisir rambut-Mu dan mencium kaki-Mu? Di manakah Engkau, supaya aku dapat mengilapkan sepatu-Mu dan membawakan air susu untuk minuman-Mu?"
Musa mendekati gembala itu dan bertanya, "Dengan siapa kamu berbicara?"
Gembala menjawab, "Dengan Dia yang telah menciptakan kita. Dengan Dia yang menjadi Tuhan yang menguasai siang dan malam, Bumi dan langit."
Nabi Musa murka mendengar jawaban gembala itu, "Betapa beraninya kamu bicara kepada Tuhan seperti itu! Apa yang kamu ucapkan adalah kekafiran. Kamu harus menyumbat mulutmu dengan kapas supaya kamu dapat mengendalikan lidahmu. Atau paling tidak, orang yang mendengarmu tidak menjadi marah dan tersinggung dengan kata-katamu yang telah meracuni seluruh angkasa ini. Kau harus berhenti bicara seperti itu sekarang juga karena nanti Tuhan akan menghukum seluruh penduduk bumi ini akibat dosa-dosamu!"
Sang Gembala segera bangkit setelah mengetahui bahwa yang mengajaknya bicara adalah seorang nabi. Ia bergetar ketakutan.
Dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya, ia mendengarkan Nabi Musa yang terus berkata, "Apakah Tuhan adalah seorang manusia biasa sehingga Ia harus memakai sepatu dan alas kaki? Apakah Tuhan seorang anak kecil yang memerlukan susu supaya Ia tumbuh besar? Tentu saja tidak. Tuhan Maha sempurna di dalam diri-Nya. Tuhan tidak memerlukan siapa pun. Dengan berbicara kepada Tuhan seperti yang telah engkau lakukan, engkau bukan saja telah merendahkan dirimu, tetapi kau juga merendahkan seluruh ciptaan Tuhan. Kau tidak lain dari seorang penghujat agama. Ayo, pergi dan minta maaf, kalau kau masih memiliki otak yang sehat!"
Gembala yang sederhana itu tidak mengerti bahwa apa yang dia sampaikan kepada Tuhan adalah kata-kata yang kasar. Dia juga takmengerti mengapa nabi yang mulia telah memanggilnya sebagai seorang musuh, tetapi ia tahu betul bahwa seorang nabi pastilah lebih mengetahui daripada siapa pun. Ia hampir tak dapat menahan tangisannya.
Ia berkata kepada Musa, "Kau telah menyalakan api di dalam jiwaku. Sejak ini, aku berjanji akan menutup mulutku untuk selamanya." Dengan keluhan yang panjang, ia berangkat meninggalkan ternaknya menuju padang pasir.
Dengan perasaan bahagia karena telah meluruskan jiwa yang tersesat, Musa melanjutkan perjalanannya menuju kota. Tiba-tiba, Allah Yang Mahakuasa menegurnya, "Mengapa engkau berdiri di antara Kami dengan kekasih Kami yang setia? Mengapa engkau pisahkan pecinta dari yang dicintai-nya? Kami telah mengutus engkau supaya engkau dapat menggabungkan kekasih dengan kekasihnya, bukan memisahkan ikatan di antaranya."
Musa mendengarkan kata-kata langit itu dengan penuh kerendahan dan rasa takut.
Tuhan berfirman, "Kami tidak menciptakan dunia supaya Kami memperoldh keuntungan darinya. Seluruh makhluk diciptakan untuk kepentingan makhluk itu sendiri. Kami tidak memerlukan pujian atau sanjungan. Kami tidak memerlukan ibadah atau pengabdian. Orang-orang yang beribadah itulah yang mengambil keuntungan dari ibadah yang mereka lakukan. Ingatlah, bahwa di dalam cinta, kata-kata hanyalah bungkus luar yang tidak memiliki makna apa-apa. Kami tidak memperhatikan keindahan kata-kata atau komposisi kalimat. Yang Kami perhatikan adalah lubuk hati yang paling dalam dari orang itu. Dengan cara itulah Kami mengetahui ketulusan makhluk Kami walaupun kata-kata mereka bukan kata-kata yang indah. Buat mereka yang dibakar dengan api cinta, kata-kata tidak mempunyai makna."
Suara dari langit selanjutnya berkata, "Mereka yang ter-ikat dengan basa-basi bukanlah mereka yang terikat dengan cinta dan umatyang beragama bukanlah umatyang mengikuti cinta karena cinta tidak mempunyai agama selain kekasihnya sendiri." Tuhan kemudian mengajarinya rahasia cinta.
Setelah memperoleh pelajaran itu, Nabi Musa mengerti kesalahannya. Sang Nabi pun merasa menderita penyesalan yang luar biasa. Dengan segera, ia berlari mencari gembala itu untuk meminta maaf. Berhari-hari, ia berkelana di padang rumput dan gurun pasir, menanyakan orang-orang apakah mereka mengetahui pengggembala yang dicarinya.
Setiap orang yang ditanyainya menunjuk arah yang berbeda. Hampir, ia kehilangan harapan, tetapi akhirnya Allah Swt. mempertemukannya dengan gembala itu. Ia tengah duduk di dekat mata air. Pakaiannya compang-camping, rambutnya kusut masai. Ia berada di tengah tafakur yang dalam sehingga ia tidak memperhatikan Musa yang telah menunggunya cukup lama.
Akhirnya, gembala itu mengangkat kepalanya dan melihat Nabi Musa.
Musa berkata, "Aku punya pesan penting untukmu. Tuhan telah berfirman kepadaku bahwa tidak diperlukan kata-kata yang indah bila kita ingin berbicara kepada-Nya. Kamu bebas berbicara kepada-Nya dengan cara apa pun yang kamu sukai, dengan kata-kata apa pun yang kamu pilih. Apa yang aku duga sebagai kekafiranmu ternyata adalah ungkapan dari keimanan dan kecintaan yang menyelamatkan dunia."
Sang Gembala hanya menjawab sederhana, "Aku sudah melewati tahap kata-kata dan kalimat. Hatiku sekarang dipenuhi dengan kehadiran-Nya. Aku takdapat menjelaskan keadaanku padamu dan kata-kata pun tak dapat melukiskan pengalaman ruhani yang ada dalam hatiku." Kemudian, ia bangkit dan meninggalkan Nabi Musa.
Utusan Allah ini menatap sang Gembala sampai ia tak terlihat lagi. Setelah itu, ia kembali berjalan ke kota terdekat, merenungkan pelajaran berharga yang didapatnya dari seorang gembala sederhana yang tidak berpendidikan.
Doa sejati yang paling tinggi adalah perenungan Tuhan dengan kalbu yang murni, yang terlepas dari semua hasrat keduniawian, tidak terpaku pada sikap-sikap jasmaniah, tetapi dengan gerak-gerik jiwa. (Ibnu Sina)
Merindukan Mati Syahid
Merindukan Mati Syahid
Menjelang shubuh, Khalifah Umar bin Al Khathab berkeliling kota
membangunkan kaum muslimin untuk shalat shubuh. Ketika waktu shalat
tiba, beliau sendiri yang mengatur saf (barisan) dan mengimami para jamaah.
Pada shubuh itu, tragedi besar dalam sejarah terjadi. Saat Khalifah mengucapkan takbiratul ihram, tiba-tiba seorang lelaki bernama Abu Lu'luah menikamkan sebilah pisau ke bahu, pinggang, dan ke bawah pusar beliau. Darah pun menyembur.
Namun, Khalifah yang berjuluk "Singa Padang Pasir" ini bergeming dari kekhusyukannya memimpin shalat. Padahal, waktu shalat masih bisa ditangguhkan beberapa saat sebelum terbitnya matahari. Sekuat apa pun Umar, akhirnya ambruk juga. Walau demikian, beliau masih sempat memerintahkan Abdurrahman bin 'Auf untuk menggantikan posisinya sebagai imam.
Beberapa saat setelah ditikam, kesadaran dan ketidaksadaran silih berganti mendatangi Khalifah Umar. Para sahabat yang mengelilinginya demikian cemas akan keselamatan Khalifah.
Salah seorang di antara mereka berkata, "Kalau beliau masih hidup, tidak ada yang bisa menyadarkannya selain kata-kata shalat!"
Lalu, yang hadir serentak berkata, "Shalat, wahai Amirul Mukminin. Shalat telah hampir dilaksanakan."
Beliau langsung tersadar, "Shalat? Kalau demikian di sanalah Allah. Tiada keberuntungan dalam Islam bagi yang meninggalkan shalat." Lalu, beliau melaksanakan shalat dengan darah bercucuran. Taklama kemudian, sahabat terbaik Rasulullah saw. ini pun wafat.
Sebenarnya, apa yang terjadi pada Umar Al Faruq ini adalah buah dari doa yang beliau panjatkan kepada Allah Swt. Alkisah, suatu ketika, saat sedang wukuf di Arafah, beliau membaca doa, "Ya Allah, aku mohon mati syahid di jalan-Mu dan wafat di negeri Rasul-Mu (Madinah)." (HR Malik)
Sepulangnya dari menunaikan ibadah haji, Umar pun menceritakan soal doanya itu kepada salah seorang sahabatnya di Madinah. Sahabat itu pun berkomentar, "Wahai Khalifah, jika engkau berharap mati syahid, tidak mungkin di sini. Pergilah keluar untuk berjihad, niscaya engkau bakal menemuinya."
Dengan ringan, Umar menjawab, "Aku telah mengajukannya kepada Allah. Terserah Allah."
Keesokan harinya, saat Umar mengimami shalat shubuh di masjid, seorang pengkhianat Majusi bernama Abu Lu'luah itu menghunuskan pisaunya ke tubuh Umar yang menyebabkan beliau mendapat tiga tusukan dalam dan tubuhnya pun roboh di samping mihrab.
Seperti itulah, Allah telah mengabulkan doa Umar bin Al Khathab untuk bisa syahid di Madinah dan dimakamkan berdampingan dengan Rasulullah saw. dan Abu Bakar Ash Shiddiq.
Pada shubuh itu, tragedi besar dalam sejarah terjadi. Saat Khalifah mengucapkan takbiratul ihram, tiba-tiba seorang lelaki bernama Abu Lu'luah menikamkan sebilah pisau ke bahu, pinggang, dan ke bawah pusar beliau. Darah pun menyembur.
Namun, Khalifah yang berjuluk "Singa Padang Pasir" ini bergeming dari kekhusyukannya memimpin shalat. Padahal, waktu shalat masih bisa ditangguhkan beberapa saat sebelum terbitnya matahari. Sekuat apa pun Umar, akhirnya ambruk juga. Walau demikian, beliau masih sempat memerintahkan Abdurrahman bin 'Auf untuk menggantikan posisinya sebagai imam.
Beberapa saat setelah ditikam, kesadaran dan ketidaksadaran silih berganti mendatangi Khalifah Umar. Para sahabat yang mengelilinginya demikian cemas akan keselamatan Khalifah.
Salah seorang di antara mereka berkata, "Kalau beliau masih hidup, tidak ada yang bisa menyadarkannya selain kata-kata shalat!"
Lalu, yang hadir serentak berkata, "Shalat, wahai Amirul Mukminin. Shalat telah hampir dilaksanakan."
Beliau langsung tersadar, "Shalat? Kalau demikian di sanalah Allah. Tiada keberuntungan dalam Islam bagi yang meninggalkan shalat." Lalu, beliau melaksanakan shalat dengan darah bercucuran. Taklama kemudian, sahabat terbaik Rasulullah saw. ini pun wafat.
Sebenarnya, apa yang terjadi pada Umar Al Faruq ini adalah buah dari doa yang beliau panjatkan kepada Allah Swt. Alkisah, suatu ketika, saat sedang wukuf di Arafah, beliau membaca doa, "Ya Allah, aku mohon mati syahid di jalan-Mu dan wafat di negeri Rasul-Mu (Madinah)." (HR Malik)
Sepulangnya dari menunaikan ibadah haji, Umar pun menceritakan soal doanya itu kepada salah seorang sahabatnya di Madinah. Sahabat itu pun berkomentar, "Wahai Khalifah, jika engkau berharap mati syahid, tidak mungkin di sini. Pergilah keluar untuk berjihad, niscaya engkau bakal menemuinya."
Dengan ringan, Umar menjawab, "Aku telah mengajukannya kepada Allah. Terserah Allah."
Keesokan harinya, saat Umar mengimami shalat shubuh di masjid, seorang pengkhianat Majusi bernama Abu Lu'luah itu menghunuskan pisaunya ke tubuh Umar yang menyebabkan beliau mendapat tiga tusukan dalam dan tubuhnya pun roboh di samping mihrab.
Seperti itulah, Allah telah mengabulkan doa Umar bin Al Khathab untuk bisa syahid di Madinah dan dimakamkan berdampingan dengan Rasulullah saw. dan Abu Bakar Ash Shiddiq.
Kamis, 01 Maret 2012
Pengertian Tasawuf
PENGERTIAN, DASAR-DASAR QUR`ANI DAN
PERKEMBANGAN TASAWUF
PERKEMBANGAN TASAWUF
Pengertian Tasawuf
Secara bahasa tasawuf diartikan sebagai Sufisme (bahasa arab: تصوف ) adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memporoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam. Tarekat (pelbagai aliran dalam Sufi) sering dihubungkan dengan Syiah, Sunni, cabang Islam yang lain, atau kombinasi dari beberapa tradisi[rujukan?]. Pemikiran Sufi muncul di Timur Tengah pada abad ke-8, sekarang tradisi ini sudah tersebar ke seluruh belahan dunia
Langganan:
Postingan (Atom)
